Jumat, 19 Maret 2010

Aktifitas Pertanian Mulai Kurang Diminati Oleh Generasi Muda Berkualitas

Bab I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Kegiatan pertanian (budidaya tanaman dan ternak) merupakan salah satu kegiatan yang paling awal dikenal peradaban manusia dan mengubah total bentuk kebudayaan. Para ahli prasejarah umumnya bersepakat bahwa pertanian pertama kali berkembang sekitar 12.000 tahun yang lalu dari kebudayaan di daerah "bulan sabit yang subur" di Timur Tengah, yang meliputi daerah lembah Sungai Tigris dan Eufrat terus memanjang ke barat hingga daerah Suriah dan Yordania sekarang. Bukti-bukti yang pertama kali dijumpai menunjukkan adanya budidaya tanaman biji-bijian (serealia, terutama gandum kuna seperti emmer) dan polong-polongan di daerah tersebut. Pada saat itu, 2000 tahun setelah berakhirnya Zaman Es terakhir di era Pleistosen, di dearah ini banyak dijumpai hutan dan padang yang sangat cocok bagi mulainya pertanian.

Pertanian mempunyai kontribusi penting terhadap perekonomian yaitu kontribusi produk dalam sumbangannya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan juga kontribusi pasar. Peran penting lainnya adalah dalam penyediaan kebutuhan pangan manusia apalagi dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk yang berarti bahwa kebutuhan akan pangan juga semakin meningkat. Di Indonesia sebagai Negara agraris, ada peran tambahan dari sektor pertanian yaitu peningkatan kesejahteraan masyarakat yang sebagian besar sekarang berada di bawah garis kemiskinan. Menurut BPS (Badan Pusat Statistik), jumlah penduduk miskin pada tahun 2004 mencapai 36,147 juta orang, dan 21,265 juta (58,8%) di antaranya bekerja di sektor pertanian.

Di antara gegap gempitanya pembangunan, lapangan pertanian kurang diminati generasi muda di desa, karena mereka menganggap sektor industri atau sektor jasa lainnya di kota lebih menjanjikan. Akibatnya, mobilitas penduduk desa ke kota untuk mendapat pekerjaan di luar pertanian begitu menonjol. Arus urbanisasi ini selain menimbulkan masalah sosial baru di kota, mengakibatkan hilangnya potensi tenaga kerja di sektor pertanian. Hilangnya sumber daya insan pertanian ini merupakan persoalan yang tidak kalah serius dalam konteks membangun kesejahteraan negeri agraris.Minimnya pengetahuan akan pertanian yang diberikan oleh sekolah dan universitas turut memberikan efek yang cukup kuat dalam menurukan minat para pemuda untuk memilih terjun ke dalam dunia pertanian, banyak para pemuda setelah lulus sma lebih untuk memilih jurusan teknologi,eksakta dan juga seni, jarang yang memilih jurusan pertanian, perikanan, kedokteran hewan, kehutanan dan pertenakan, mereka hanya berfikir bahwa memilih jurusan teknologi, eksakta dan seni akan memberikan mereka penghidupan yang layak dan gaji yang besar dan juga bekerja di pertanian tidak memberikan masa depan yang cerah dan segala cita-cita mereka tidak akan tercipta jika harus memilih sektor pertanian.

1.2 Tujuan

· Dalam menulis makalah penulis bertujuan untuk :

· Memberikan informasi mengenai peran pemuda dalam pertanian

· Memberikan gambaran mengenai apa saja manfaat pertanian di Indonesia

· Dapat sebagai salah satu sumber masukkan dalam untuk melihat keadaan pertanian Indonesia

· Menjadikan pertanian Indonesia lebih berkembang dibandingkan sebelumnya

· Memotivasi para pemuda untuk lebih terjun aktif ke dalam pertanian Indonesia

· Memberikan sedikit pelajaran dunia pertanian adalah dunia yang luas

1.3 Sasaran

Sasaran dari penulisan makalah ini yang utama adalah para pemuda tetapi juga para petani, pemerintah, orang tua dan juga yang luas adalah masyarakat Indonesia yang kurang informasinya terhadap pertanian agar membuka wawasan mereka terhadap pertanian dan dapat meningkatkan dunia pertania Indonesia yang mulai turun peminatnya.

BAB II

2.1 PERMASALAHAN

Kemiskinan merupakan masalah utama yang dihadapi oleh Negara-negara berkembang dan ini tidak bisa dipisahkan dengan masalah pembangunan pertanian dan pedesaan karena sebagian besar penduduknya tinggal di pedesaan yang basis perekonomiannya adalah pertanian. Indonesia hampir 60% penduduknya adalah petani sehingga kesejahteraan petani menjadi indicator sejahteranya mayoritas rakyat Indonesia. Begitu sebaliknya, keprihatinan petani adalah keprihatinan bagian terbesar rakyat Indonesia.

Jumlah dan persentase penduduk miskin pada periode 1996-2005 berfluktuasi dari tahun ke tahun meskipun terlihat adanya kecenderungan menurun pada periode

2000-2005 (Tabel 2). Pada periode 1996-1999 jumlah penduduk miskin meningkat sebesar 13,96 juta karena krisis ekonomi, yaitu dari 34,01 juta pada tahun 1996 menjadi 47,97 juta pada tahun 1999. Persentase penduduk miskin meningkat dari 17,47 persen menjadi 23,43 persen pada periode yang sama.

Pada periode 1999-2002 terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebesar 9,57 juta, yaitu dari 47,97 juta pada tahun 1999 menjadi 38,40 juta pada tahun 2002. Secara relatif juga terjadi penurunan persentase penduduk miskin dari 23,43 persen pada tahun 1999 menjadi 18,20 persen pada tahun 2002.

Penurunan jumlah penduduk miskin juga terjadi pada periode 2002-2005 sebesar 3,3 juta, yaitu dari 38,40 juta pada tahun 2002 menjadi 35,10 juta pada tahun 2005. Persentase penduduk miskin turun dari 18,20 persen pada tahun 2002 menjadi 15,97 persen pada tahun 2005.

Salah satu indicator yang dapat dijadikan ukuran kesejahteraan pertanian adalah INTP (Indeks Nilai Tukar Petani). INTP adalah rasio indeks harga yang diterima petani dari pasar terhadap produksi pertaniannya dengan indeks harga yang dibayar petani untuk mendapatkan sarana produksi pertaniannya, dan barang serta jasa yang dikonsumsinya. Jika INTP di atas 100 dapat diartikan bahwa daya beli masyarakat petani lebih baik dari tahun dasar atau dengan kata lain tingkat kesejahteraan petani lebih baik dari tahun dasar. Namun jika di bawah 100, yang terjadi adalah sebaliknya, kesejahteraan petani makin memprihatinkan dan cenderung semakin memprihatinkan. Selama januari – September 2005 menunjukkan bahwa INTP baik di Jawa maupun di luar Jawa rata-rata mengalami penurunan. Bahkan di Jawa INTP berada di bawah 100.

Masalah kemiskinan ini tidak dapat dipisahkan dari factor penyebabnya. Sebagaimana masalah kemiskinan dapat dibedakan menjadi kemiskinan natural, cultural, dan structural (Baswir, 1997). Kemiskinan natural adalah kemiskinan yang disebabkan oleh factor-faktor alamiah. Kemisikinan cultural adalah kemiskinan yang disebabkan oleh faktor budaya . Sedangkan kemiskinan structural adalah kemiskinan yang disebabkan factor-faktor buatan manusia seperti distribusi asset produkstif yang tidak merata, kebijakan ekonomi yang cenderung menguntungkan kelompok masyarakat tertentu.

Anggapan yang berlaku umum bahwa kemiskinan petani disebabkan karena mereka bodoh, malas, banyak anak, mentalitas fatalistic, ataupun karena tanah yang mereka miliki tidak subur. Kemiskinan mereka dianggap bukan karena ketidakadilan. Tentu benar jika sebagian orang beranggapan bahwa ada mentalitas dan budaya tertntu yang menyebabkan kemiskinan mereka. Tetapi ada sebuah akar kemiskinan petani yang sulit dibantah yaitu faktor-faktor structural. Mereka menjadi miskin karena menjadi bagian dari golongan masyarakat. Jelaslah bahwa kemiskinan petani bukan karena datang dengan sendirinya tetapi akibat dari struktur social yang menentukan kehidupan golongan mereka.

Pertanian pada umumnya di Indonesia memang belum memberikan nilai tambah yang tinggi baik bagi pendapatan, kesejahteaan serta bagi pengembangan karir. Dengan kata lain, bekerja di bidang pertanian agak sulit memproyeksikan masa depan.

Kebijakan pemerintah di bidang pertanian belum mengarah kepada pembinaan calon-calon agribusinessman yang kreatif. Banyak calon mahasiswa yang belum tahu bagaimana prospek agribisnis jika ditekuni dengan menggunakan kombinasi keilmuan dan keahlian lapangan (manajemen) yang baik. Banyak juga agribusinessman yang bahkan lebih sukses dari mereka yang bekerja di bidang lain.Oleh karena itu banyak dari generasi muda sekarang kurang berminat pada bidang pertanian, umumnya calon mahasiswa dan mahasiswa sendiri menganggap bekerja di sektor pertanian tidak memberikan pendapatan yang tinggi dibanding bekerja di bidang keuangan perbankan, pertambangan, dsb. Padahal peran pemuda yang berkualitas sangat diperlukan dalam perkembangan pertanian di Indonesia sepertti dengan mengambil peran penting dalam peningkatan produksi panen dengan cara mengubah cara pertanian yang kuno dan kurang diminati menjadi menarik untuk dipelajari dan dipraktekan, seperti memberikan bimbingan dan pengenalan terhadap teknologi-teknologi yang dapat menunjang perkembangan pertanian di indonesia.

2.2 Analisis SWOT

1. Strengths (Kekuatan)

a. Masih banyaknya Lahan-lahan pertanian yang ada di indonesia adalah salah satu kekuatan bangsa indonesia dalam sektor pertanian

b. Jumlah penduduk yang banyak

c. Beragamnya jenis tanaman merupakan dasar untuk keragaman hayati produk pertanian.

d. kekayaan alam indonesia yang melimpah

2. Weaknesses (Kelemahan)

a. Penguasaan ilmu mahasiswa S-1 pertanian dirasakan terlalu spesifik, bersifat monodisiplin, dan lebih berorientasi pada aspek pendalaman ilmu (teoritis saja)

b. Banyak kebijakan pemerintah yang tidak pro-petani (petani tidak difasilitasi kebutuhan sarana produksinya, harga jual hasil pertanian dipermainkan tengkulak), sehingga tingkat kesejahteraan petani sangat rendah , berusaha di bidang pertanian dinilai tidak menjanjikan dan tidak menarik lagi bagi generasi muda

c. Rasa nasionalisme atau kebanggaan terhadap potensi lokal sangat rendah, terbukti banyak masyarakat yang lebih bangga mengonsumsi hasil pertanian import dari mancanegara daripada produksi dalam negeri, padahal potensi SDA lokal kita sesungguhnya tidak kalah hebatnya

d. Masih sangat rendahnya budaya menciptakan lapangan kerja sendiri (wirausaha mandiri) dan orientasi generasi muda untuk mencari pekerjaan setelah lulus masih sangat tinggi, karena keberhasilan menjadi pegawai (PNS) masih dianggap sebagai ukuran kesuksesan di masyarakat dibandingkan sebagai wirausahawan

3. Opportunities (Peluang)

a. Alam Indonesia yang melimpah dan masih ada yang belum terjamah oleh tangan-tangan manusia

b. Bimbingan dan pembelajaran mengenai cara bertani yang baik dan benar

c. Pengenalan teknologi kepada para petani

d. Pemberian modal awal kepada para petani

e. Peran pemerintah yang perlu ditingkatkan

4. Threats (Tantangan)

a. Jumlah penduduk Indonesia yang banyak

b. Kesenjangan diberbagai bidang

c. Sistem nenek moyang yang masih dianut oleh kaum tua

e. Perbedaan cara berfikir dan cara pandang setiap warga negara Indonesia

BAB III

3.1 KESIMPULAN

Peran pemuda sangat berpengaruh sekali dalam pengembangan pertanian di Indonesia terutama dalam penyebaran informasi bagi para petani, Selain dari para pemuda, peran pemerintah juga sangat berpengaruh besar, pemerintah selaku pemegang hak tertinggu pemerintahan, dapat memberikan peran serta aktif memberikan sumbangsih dalam hal peningkatan pertanian dengan cara memberikan kredit lunak terhadap para petani, menghapus peraturan-peraturan yang memberatkan para petani dan juga memberikan modal-modal awal yang besar kepada para petani sehingga para petani lebih mudah dalam mencari bibit-bibit yang brrkualitas sehingga merka lebih mudah dalam menjalakan produksi pertanian.

3.2 Saran

Secara pribadi, saya menyarankan apabila jenjang pendidikan ahli madya seperti politeknik bidang pertanian diperbanyak dan dikembangkan di daerah-daerah.Cukup tingginya angka pengangguran sarjana hingga saat ini (ada sekitar 60 % lulusan PT menganggur) seharusnya semakin menyadarkan kita semua bahwa jenjang pendidikan yang hanya mementingkan teori tanpa membekalinya dengan praktek yang cukup tidak sesuai lagi dengan kebutuhan kita saat ini. Sesuai dengan identifikasi masalah , menurut saya kata kunci yang harus dipenuhi dalam kurikulum pendidikan Diploma pertanian adalah :

1. Porsi praktek harus lebih banyak daripada teori (minimal 60 % praktek : 40 teori) ,

2. Teknologi pertanian modern dari hulu sampai hilir harus dikedepankan, dan diprioritaskan untuk mengembangkan potensi hasil pertanian lokal.

3. Upaya membangkitkan rasa nasionalisme bangsa harus digelorakan kembali,

4. Pendidikan kewirausahaan, kemandirian, dan kepemimpinan harus diprioritaskan.

Untuk membenahi permasalahan tersebut, salah satu langkah yang dilakukan Dikti adalah mengganti ”baju” atau ”kemasan” pertanian menjadi ”agro-teknologi / agro-ekoteknologi” dan ”Agrobisnis”. Dari kacamata marketting, barangkali ganti baju atau kemasan menjadi ”agro-teknologi / agro-ekoteknologi” dan ”Agrobisnis” tersebut cukup mengundang calon konsumen, namun bagi kami yang terpenting sesungguhnya adalah ”isinya” yaitu kurikulum pendidikan dan content-isi materi pembelajaran. Sekedar ganti baju tanpa membenahi isinya, barangkali tidak akan membawa perubahan yang berarti dan hasilnya sama saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar