Selasa, 12 Oktober 2010

Marilah Saling Memaafkan

Seorang guru Taman Kanak-kanak (TK) mengadakan permainan. Ibu guru menyuruh tiap-tiap muridnya membawa kantong plastik transparan berisi kentang. Masing-masing kentang diberi nama berdasarkan nama orang yang tidak disukai, sehingga jumlah kentangnya tidak ditentukan berapa, tergantung jumlah orang-orang yang tidak disuka.

Pada hari yang disepakati, murid-murid ada yang membawa 2 kentang, 3 kentang bahkan ada yang 5. Sesuai perintah, tiap-tiap kentang diberi nama sesuai nama orang yang tidak disuka. Murid-murid harus membawa kantong plastik berisi kentang tersebut kemana saja mereka pergi, bahkan ke toilet sekalipun, dan waktu untuk membawanya adalah selama 1 minggu. Hari berganti hari, kentang-kentang pun mulai membusuk, murid-murid mulai mengeluh, apalagi yang membawa 5 buah kentang, selain berat, baunya juga tidak sedap. Setelah 1 minggu murid-murid merasa lega karena penderitaan mereka akan segera berakhir. Ibu Guru : “Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1 minggu ?” Keluarlah keluhan dari murid-murid TK tersebut, pada umumnya mereka tidak merasa nyaman harus membawa kentang-kentang busuk tersebut ke manapun pergi. Guru pun menjelaskan apa arti dari “permainan” ini. Ibu Guru : “Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa-bawa apabila kita tidak bisa memaafkan orang lain”.

Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk kemana pun kita pergi. Itu hanya 1 minggu. Bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup? Alangkah tidak nyamannya.

Tulus, Ikhlas & Tanpa Pamrih

Pepatah yang mengatakan, ringan sama dijinjing berat sama dipikul adalah mereflesikan suatu Team Work yang solid. Selain beban akan semakin ringan, hasil yang dicapai juga akan semakin optimal. Peranan Team Work sangat besar kontribusinya bagi tercapainya target dari suatu organisasi. Tanpa adanya Team Work yang tangguh, selain terbuka peluang menuju kegagalan, hasilnya pun tidak akan sesuai dengan yang diharapkan. "Great achievement is usually born of great sacrifice, and is never the result of selfishness" Napoleon Hill. Untuk membangun Team Work yang tangguh maka :

  1. Semua orang yang terlibat dalam Team Work harus benar-benar memahami dan mengerti dengan Visi dan Misi organisasi. Jika kondisi ini telah terpenuhi, selain akan menghilangkan sikap tidak percaya maka tujuan yang ingin dicapai akan semakin mudah direalisasikan karena semuanya telah terfokuskan dengan baik pada target yang ingin dicapai.
  2. Siapapun yang terlibat dalam suatu Team Work, harus mau membuka diri/transparan. Yang namanya rahasia, sedini mungkin disirnakan. Jika ada permasalahan yang timbul, setiap orang dalam Team Work akan berusaha seoptimal mungkin memberikan solusi pemecahan. Jika senang akan sama-sama dinikmati, begitu juga sebaliknya.
  3. Selalu tekankan dalam Team Work bahwa kita adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
  4. Setiap orang yang berada dalam Team Work memiliki fungsi dan peranan yang sangat penting. Didasarkan oleh kondisi ini maka siapapun yang terlibat dalam Team Work harus saling menghormati dan menghargai.
  5. Berfikiran positif. Ini adalah salah satu hal fundamental yang harus dimiliki dalam team work. Yang menilai baik tidaknya diri seseorang adalah didasarkan pada apa yang ia kontribusikan, bukan semata-mata dari penampilan luarnya.
  6. Karena ini adalah untuk kepentingan bersama maka sudah sepatutnya bekerjasama dengan tulus, ikhlas dan tanpa pamrih.
  7. Rela berkorban. Motivasi utama dari perbuatan mulia ini adalah demi kesuksesan bersama dalam suatu team Work.

Dengan dimilikinya Team Work yang tangguh maka apapun yang direncanakan akan semakin mudah direalisasikan. (dnu-disarikan dari andriewongso.com)

Senin, 04 Oktober 2010

Leaders are Learners

Dalam sebuah studi mengenai 90 pemimpin terkemuka dunia, Warren Bennis dan Burt Nanus dalam bukunya “Leaders”, menemukan bahwa hal yang membedakan seorang pemimpin dengan pengikut adalah kapasitas untuk mengembangkan dan memperbaiki skills-nya. Para pemimpin yang sukses umumnya adalah pembelajar yang efektif. Sebuah temuah yang logis mengingat para pemimpin berperan besar dalam inovasi yaitu sebagai early adapters of innovation. Para pemimpin adalah mereka yang mampu menangkap suatu ide dengan cepat. Selain itu para pemimpin juga dituntut untuk selalu akrab dengan perubahan yang terjadi. Kepemimpinan bukanlah suatu hal yang statis, namun selalu dinamis. Dengan kondisi seperti ini tentunya seorang pemimpin yang sukses tentunya adalah pembelajar yang efektif. Lalu apakah kita sebagai pemimpin telah menjadi learner?

Ada tiga kualitas pembelajar yang dapat kita cermati. Untuk menjadi seorang learner, seorang pemimpin perlu mengembangkan dua karakter penting, yaitu rendah ahti (humility) dan dapat diajar (taechable). Menurut Jim Collins dalam bukunya ”Good to Graet”, dengan kerendahan hati maka karakter ”dapat diajar” dapat tumbuh dalam diri para leader. Dengan adanya kerendahan hati ini seorang learner akan selalu siap menerima hal-hal baru kapan saja tanpa memandang siapa yang menyampaikannya. Tetapi buila sikap rendah hati ini tidak muncul yang ada adalah sikap merasa tahu segalanya, yang akhirnya akan susah untuk menerima sesuatu yang baru.

Kepemimpinan adalah suatu yang kompleks yang perlu dipelajari setiap hari. Kepemimpinan berkembang setiap hari sehingga perlu adanya proses pembelajaran yang disiplin dan berkelanjutan. Langkah praktis dari pembelajaran setiap hari adalah membaca. Para pemimpin hanya bisa memberi kepada orang lain sejauh kemauannya untuk meng-update diri dengan berbagi bacaan berkualitas. Pemimpin yang efektif adalah mereka yang terus belajar sepanjang mereka hidup. Tanpa life long learning, pemimpin akan menjadi regresif, bukannya progresif.

Tanpa kebiasaan dan keinginan untuk terus belajar, "kapak" kepemimpinan akan kehilangan ketajamannya. Life long learning adalah sebuah nilai yang harus ditumbuhkan, dihargai dan diberi reward dalam kultur perusahaan-perusahaan modern. Setiap pemimpin harus menyadari bahwa learning adalah bagian tak terpisahkan dari leading. Saat kita berhenti belajar, berarti kita telah membatasi kapasitas kepemimpinan kita. Saat kita berhenti belajar, cepat atau lambat kita akan berhenti mempimpin. ( disadur dari Astra Executive HR Update & Majalah "Executive Focus")

Batu Kusam

Suatu ketika ada seorang seniman batu berjalan menyusuri kaki gunung yang sangat gersang, dan melihat seonggok batu berwarna kecoklatan kusam yang diselimuti lumut dan tanah lembab. Tanpa ragu, dengan sekuat tenaga sang seniman mengayunkan godamnya untuk memecah batu hingga menjadi bongkahan sebesar kepala. Warna asli batu yang putih kasar mulai terlihat.

Dengan perasaan mantap dibawanya batu itu ke rumah, kemudian di potong dengan menggunakan gerinda (alat pemotong batu), hingga dari hasil gesekannya sesekali terlihat percikan api menghias dan serpihan debu batu memenuhi kedua tangannya. Permukaan batu yang kasar dengan sabar terus di haluskan dan di polesnya. Siang dan malam tanpa kenal lelah sang seniman berusaha menempa batu itu dengan tekun. Hingga akhirnya warna asli batu yang semula putih kasar, berangsur menjadi putih, licin dan mengkilap. Dengan sentuhannya sang seniman berhasil mengubah sebuah batu yang semula kusam menjadi batu penghias cincin yang bernilai tinggi.

Begitulah alam mengajarkan kita tentang kehidupan. Kita ibarat sebongkah batu yang mungkin awalnya berlumut, kusam dan tak berdaya. Namun berbagai tempaan warna kehidupan laksana pukulan godam, gesekan gerinda, percikan api, polesan amplas yang kasar mampu mengubah kita menjadi pribadi yang unik dan istimewa sepanjang masa. Seringkali kita merasa pesimis terhadap jepitan permasalahan yang timbul ataupun jeratan kesulitan yang kita temui dalam pekerjaan kita. Bahkan kita menganggapnya sebagai beban yang begitu berat hingga memaksa kita untuk menyerah atau berusaha sekuat tenaga menghindarinya. Padahal boleh jadi semua itu merupakan cara Tuhan untuk membentuk dan mengajarkan kita agar menjadi lebih kuat dan bersinar.

Saat merintis bisnisnya Soichiro Honda selalu di liputi kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, bahkan dikeluarkan dari kuliah. Namun semua kesulitan tersebut justru semakin menempanya dan menjadikan yang terbaik dibidangnya. “Nilaiku jelek di sekolah, tapi aku tidak bersedih, karena duniaku di sekitar mesin, motor dan sepeda.” Tuturnya bersemangat. Tak heran jika kemudian seluruh pengalaman yang menempanya tersebut mampu mengantarkannya menemui sinar kesuksesannya.

Sekarang mari kita pikirkan, dimanakah posisi kita? Apakah cukup bangga sebagai seonggok batu kusam dan terlihat rapuh? Ataukah seonggok batu yang sedang mengalami proses menjadi sebuah batu penghias cincin yang memiliki nilai tinggi? Semua mungkin di dunia ini, selama kita yakin dan optimis. Maka berjalanlah dengan langkah mantap menuju rumah kesuksesan kita. Jadikan duri dan kesulitan yang menghadang sebagai tantangan.

Sabtu, 02 Oktober 2010

ORGANISASI

Pengertian dari organisasi adalah sekumpulan orang-orang yang disusun dalam kelompok-kelompok, yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama, Organisasi adalah system kerjasama antara dua orang atau lebih, atau organisasi adalah setiap bentuk kerjasama untuk pencapaian tujuan bersama, organisasi adalah struktur pembagian kerja dan struktur tata hubungan kerja antara sekelompok orang pemegang posisi yang bekerjasama secara tertentu untuk bersama-sama mencapai tujuan tertentu.

Menurut para ahli terdapat beberapa pengertian organisasi sebagai berikut :

1.Prof Dr. Sondang P. Siagian, mendefinisikan “organisasi ialah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja bersama serta secara formal terikat dalam rangka pencapaian suatu tujuan yang telah ditentukan dalam ikatan yang mana terdapat seseorang / beberapa orang yang disebut atasan dan seorang / sekelompok orang yang disebut dengan bawahan.”
2.Drs. Malayu S.P Hasibuan mengatakan “organisasi ialah suatu sistem perserikatan formal, berstruktur dan terkoordinasi dari sekelompok yang bekerja sama dalam mencapai tujuan tertentu. Organisasi hanya merupakan alat dan wadah saja.”
3. Prof. Dr. Mr Pradjudi Armosudiro mengatakan “organisasi adalah struktur pembagian kerja dan struktur tata hubungan kerja antara sekelompok orang pemegang posisi yang bekerjasama secara tertentu untuk bersama-sama mencapai tujuan tertentu.

4. James D Mooney berpendapat bahwa “Organization is the form of every human, association for the assignment of common purpose” atau organisasi adalah setiap bentuk kerjasama untuk pencapaian suatu tujuan bersama.

5. Chester L Bernard (1938) mengatakan bahwa “Organisasi adalah system kerjasama antara dua orang atau lebih ( Define organization as a system of cooperative of two or more persons) yang sama-sama memiliki visi dan misi yang sama.

6. Paul Preston dan Thomas Zimmerer mengatakan bahwa “Organisasi adalah sekumpulan orang-orang yang disusun dalam kelompok-kelompok, yang bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama.” (Organization is a collection people, arranged into groups, working together to achieve some common objectives).

Adapun ciri-ciri dari organisasi adalah
- Adanya komponen ( atasan dan bawahan)
- Adanya kerja sama (cooperative yang berstruktur dari sekelompok orang)
- Adanya tujuan
- Adanya sasaran
- Adanya keterikatan format dan tata tertib yang harus ditaati
- Adanya pendelegasian wewenang dan koordinasi tugas-tugas